Homoseksualitas dan Moralitas
🚨DISCLAIMER🚨
Artikel ini bukanlah sebuah artikel penolakan terhadap kawan-kawan LGBT, dan bukanlah sebuah artikel yang menyerukan anti-homoseksual. Saya membuat disclaimer ini dikarenakan saya sadar dan paham betul bahwa saat ini banyak pengguna internet yang gemar menghujat dan menghakimi sebuah konten tanpa benar-benar membaca serta memahami isi konten tersebut. Artikel ini mungkin akan terdengar sedikit pro homoseksual dan LGBT namun sebenarnya artikel ini juga bukan artikel semacam itu, artikel ini akan mengungkapkan bahwa saya cenderung tidak peduli dengan homoseksualitas ataupun orientasi seksual seseorang, dan begitulah seharusnya kawan-kawan bersikap, dan tidak ada satupun dari kita yang diperbolehkan menghakimi dan menghujat orientasi seksual orang lain, serta melegitimasi bentuk-bentuk diskriminasi terhadap kawan-kawan LGBT.
Beberapa tahun kebelakang kawan-kawan LGBT mulai berani mengungkap identitas dan menyuarakan aspirasi-aspirasi mereka serta menuntut hak-hak mereka sebagai warga negara, namun sangat disayangkan ketika mayoritas masyarakat Indonesia-termasuk salah satu kawan saya yang mengaku sebagai Agnostik-atheis-menolak untuk mengakui kawan-kawan LGBT dan berusaha membatasi serta mendiskriminasi hak-hak kawan LGBT sebagai manusia dan sebagai warga negara dengan dalih agama dan moralitas.
Lagi-lagi agama muncul sebagai salah satu aspek pembawa masalah, namun untuk sekarang saya tidak ingin mempermasalahkan hal ini, karena saya tidak ingin artikel ini pecah kemana-mana dan amburadul. Aspek kedua adalah aspek moralitas, banyak pegiat gerakan anti LGBT mendasari pergerakan mereka atas asas moralitas, serta menganggap, dan mencap homoseksualitas sebagai tindakan yang tidak bermoral.
Sebelum saya melanjutkan pembahasan ini, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan sederhana, "Apakah homoseksualitas adalah tindakan bermoral ?" Mungkin kawan-kawan menganggap bahwa saya akan menjawab pertanyaan ini dengan jawaban "Ya". Nope, it's a big mistake. Justru saya akan menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban "Tidak". Wait, don't judge me, lemme clarify it. Ketika saya maju dengan jawaban "Tidak" bukan berarti saya menganggap homoseksualitas adalah tindakan yang tidak bermoral, mungkin kawan-kawan akan bingung, tapi memang itulah adanya, homoseksualitas bukanlah tindakan yang bermoral bukan juga tindakan yang tidak bermoral. Bingung ? Kalau masih bingung coba pahami dulu, setelah paham mari kita lanjutkan dan membahas alasannya.
Ketika kita membahas mengenai homoseksualitas, dalam sebuah forum diskusi maupun forum debat, baik yang formal maupun tidak, seringkali peserta diskusi ataupun peserta debat melakukan Logical Fallacy atau dalam Bahasa Indonesia berarti kesalahan logika, dan kesalahan tersebut saya nilai cukup fatal, mungkin kawan-kawan akan bertanya dimanakah letak kesalahannya ? Kesalahannya terletak pada asumsi tak berdasar yang menyatakan bahwa homoseksualitas telah memasuki sebuah lingkup pembahasan mengenai moralitas, atau Moral Sphere, sehingga mereka berpendapat bahwa homoseksualitas dapat dipandang dan dihakimi dalam kacamata moralitas. Setiap perbuatan yang kita perbuat selalu masuk kedalam 2 lingkup yaitu :
Artikel ini bukanlah sebuah artikel penolakan terhadap kawan-kawan LGBT, dan bukanlah sebuah artikel yang menyerukan anti-homoseksual. Saya membuat disclaimer ini dikarenakan saya sadar dan paham betul bahwa saat ini banyak pengguna internet yang gemar menghujat dan menghakimi sebuah konten tanpa benar-benar membaca serta memahami isi konten tersebut. Artikel ini mungkin akan terdengar sedikit pro homoseksual dan LGBT namun sebenarnya artikel ini juga bukan artikel semacam itu, artikel ini akan mengungkapkan bahwa saya cenderung tidak peduli dengan homoseksualitas ataupun orientasi seksual seseorang, dan begitulah seharusnya kawan-kawan bersikap, dan tidak ada satupun dari kita yang diperbolehkan menghakimi dan menghujat orientasi seksual orang lain, serta melegitimasi bentuk-bentuk diskriminasi terhadap kawan-kawan LGBT.
Lagi-lagi agama muncul sebagai salah satu aspek pembawa masalah, namun untuk sekarang saya tidak ingin mempermasalahkan hal ini, karena saya tidak ingin artikel ini pecah kemana-mana dan amburadul. Aspek kedua adalah aspek moralitas, banyak pegiat gerakan anti LGBT mendasari pergerakan mereka atas asas moralitas, serta menganggap, dan mencap homoseksualitas sebagai tindakan yang tidak bermoral.
Sebelum saya melanjutkan pembahasan ini, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan sederhana, "Apakah homoseksualitas adalah tindakan bermoral ?" Mungkin kawan-kawan menganggap bahwa saya akan menjawab pertanyaan ini dengan jawaban "Ya". Nope, it's a big mistake. Justru saya akan menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban "Tidak". Wait, don't judge me, lemme clarify it. Ketika saya maju dengan jawaban "Tidak" bukan berarti saya menganggap homoseksualitas adalah tindakan yang tidak bermoral, mungkin kawan-kawan akan bingung, tapi memang itulah adanya, homoseksualitas bukanlah tindakan yang bermoral bukan juga tindakan yang tidak bermoral. Bingung ? Kalau masih bingung coba pahami dulu, setelah paham mari kita lanjutkan dan membahas alasannya.
Ketika kita membahas mengenai homoseksualitas, dalam sebuah forum diskusi maupun forum debat, baik yang formal maupun tidak, seringkali peserta diskusi ataupun peserta debat melakukan Logical Fallacy atau dalam Bahasa Indonesia berarti kesalahan logika, dan kesalahan tersebut saya nilai cukup fatal, mungkin kawan-kawan akan bertanya dimanakah letak kesalahannya ? Kesalahannya terletak pada asumsi tak berdasar yang menyatakan bahwa homoseksualitas telah memasuki sebuah lingkup pembahasan mengenai moralitas, atau Moral Sphere, sehingga mereka berpendapat bahwa homoseksualitas dapat dipandang dan dihakimi dalam kacamata moralitas. Setiap perbuatan yang kita perbuat selalu masuk kedalam 2 lingkup yaitu :
- Lingkup moral (Moral Sphere)
- Bukan lingkup moral (Amoral Sphere)
Dan tujuan saya menulis artikel ini adalah menjelaskan perbedaan keduanaya, dan manakah yang cocok, pas, dan sesuai untuk homoseksualitas.
Disini saya memiliki dua kriteria dua kriteria ini berfungsi untuk menentukan sebuah tindakan apakah ia masuk kedalam lingkup moral (Moral Sphere) atau masuk kepada lingkup bukan moral (Amoral Sphere), dan ketika sebuah tindakan masuk kedalam bukan lingkup moral (Amoral Sphere) namun kawan-kawan tetap memandangnya dan menghakiminya dari kacamata moralitas, maka kebodohan kawan sudah terverifikasi. Dua kriteria tersebut adalah :
- Tingkat kesadaran.
- Pengaruh terhadap manusia dan lingkungan disekitarnya.
Untuk membuat penjelasan semakin menarik, mudah diingat dan simpel, maka saya telah membuat sebuah tabel sederhana, berikut tabelnya :
![]() |
| Ceklis berarti Moral Sphere dan Silang berari Amoral Sphere. |
Ketika seseorang memutuskan untuk mengambil tindakan dengan kesadaran, serta memiliki pengaruh terhadap manusia lain ataupun lingkungan disekitar, maka tindakan tersebut dapat dimasukkan dalam lingkup moral (Moral Sphere) dan dapat dihakimi dalam sudut pandang moralitas, contoh :
- Si A memutuskan untuk memberi makan orang miskin dan hewan-hewan terlantar dipinggir jalan. Moral Sphere, memenuhi 2 kriteria dalam kesadaran penuh, dan memiliki pengaruh terhadap lingkungan sekitar, maka si A dapat dihakimi melalui sudut pandang moralitas, yang dalam kaca mata moralitas, tindakan si A merupakan tindakan bermoral.
- Si B memiliki dendam kepada si C dan membunuhnya. Moral Sphere, memenuhi 2 kriteria dalam kesadaran penuh, dan memiliki pengaruh terhadap lingkungan sekitar, maka si B dapat dihakimi melalui sudut pandang moralitas, yang dalam kacamata moralitas, tindakan si B merupakan tindakan tidak bermoral.
Namun ketika orang tersebut memutuskan untuk mengambil tindakan dengan kesadaran tetapi tidak memiliki pengaruh terhadap manusia lain ataupun lingkungan disekitar maka tindakan tersebut tidak masuk kedalam lingkup moral (Moral Sphere) justru ia masuk kedalam lingkup bukan moral (Amoral Sphere) yang berarti ia tak dapat di hakimi dan dinilai dari sudut pandang moralitas, contoh simpelnya ketika saya memotong rambut saya, saya melakukannya dalam tingkat kesadaran penuh, namun hal tersebut tidak berdampak kepada orang lain maupun lingkungan disekitar. Apakah kawan berhak menghakimi saya dalam sudut pandan moralitas ? Tentu tidak.
Contoh lain untuk membuktikan tabel yang saya buat adalah coba bayangkan ketika kawan sedang tidur (tidak sadar), kemudian kawan mengalami gangguan tidur berupa berjalan selama tidur, kawan pergi kedapur, mengambil segelas air dan menumpahkannya di dapur, lalu kawan kembali ke kasur, keesokan harinya adik kawan berlari-lari di dapur dan terpeleset sehingga membuat adik kawan terjatuh dan mati (berpengaruh terhadap manusia lain). Apakah orang lain berhak menghakimi kawan dalam sudut pandang moralitas ? Tentu tidak. Ketika ada seseorang yang menghakimi tindakan kawan dengan sudut pandang moralitas sehingga, ia menyatakan kalau kawan melakukan tindakan tidak bermoral, maka sama saja ia menyalahkan laut ketika terjadi Tsunami di bibir pantai. Got it ?. Untuk lebih jelasnya silahkan lihat dan pelajari dengan seksama tabel yang telah saya buat diatas.
Kita juga dapat mengaplikasikan kriteria pada tabel diatas kedalam homoseksualitas. Pertama, apakah homoseksualitas memiliki pengaruh terhadap lingkungan sekitar ? Yah, mungkin kita dapat berdiskusi dan dapat berdebat seharian mengenai hal ini, mengenai keuntungan dan kerugian dalam pernikahan sejenis, dan dampak pola asuh anak dalam pernikahan sejenis, tapi hal ini merupakan masalah yang berbeda ketika seseorang menyadari bahwa ia homoseksual dan menemukan pasangan sejenisnya sehingga mereka tidak mendekati individu lain, maka mereka juga dapat dikatakan tidak memiliki pengaruh terhadap individu lainnya. Akan ada pembahasan panjang mengenai hal ini dan tidak ada titik kejelasan apakah homoseksualitas memiliki pengaruh terhadap lingkungan sekitar dan individu lainnya atau tidak, maka dari itu mari kita lihat kriteria satunya. Apakah homoseksualitas merupakan tindakan yang sadar akibat pilihan atau memang homoseksualitas merupakan tindakan yang tidak sadar akibat genetik ? Terjadi banyak perdebatan mengenai hal ini, dan menurut saya perdebatan tersebut merupakan perdebatan yang bodoh dan tidak masuk akal, permasalahannya selalu mengarah kepada pertanyaan "Apakah homoseksual dibentuk oleh lingkungannya atau genetik dan bawaan dari lahir ?" Coba kawan-kawan berpikir sejenak, meskipun homoseksualitas merupakan tindakan ang dibentuk melalui lingkungan sekitar, homoseksualitas tetaplah bukan sebuah pilihan, apakah kawan memilih selera musik kawan ? selera humor dan pakaian kawan ? 😒😒😕😕 dan segala sesuatu yang bukan sebuah pilihan, maka ia juga tak dapat dihakimi melalui sudut pandng moralitas.
Okelah kalau kawan menolak untuk mendengarkan kata kata saya, mari kita lihat dan dengarkan kata-kata dari Seorang filsuf Jerman, Immanuel Kant.
"Ketika anda menyarankan dan menyuruh seseorang untuk harus melakukan sesuatu atau untuk harus menjadi sesuatu pasti ada kemungkinan orang tersebut dapat melakukannya, namun ketika orang tersebut tidak mungkin untuk melakukannya, maka anda tidak bisa mengatakan bahwa mereka harus melakukannya."
Dari kata-kata milik Immanuel Kant, dapat diartikan bahwa kita tidak bisa memaksa seseorang yang tidak bisa melakukan suatu hal untuk melakukan hal tersebut, permasalahan ini juga didapati pada kasus homoseksualitas, kawan-kawan tidak dapat memaksa dan menyuruh seorang homoseksual untuk menjadi straight, begitu juga sebaliknya, kawan-kawan tidak bisa memaksa dan menyuruh seorang istraight untuk menjadi homoseksual, dan menghakimi hal ini dalam sudut pandan moralitas benar-benar suatu hal yang bodoh.
Seperti statement yang telah saya sebutkan diawal, hal ini membuktikan bahwa homoseksualitas tidak dapat dikategorikan dan dimasukkan kedalam lingkup moral (Moral Sphere), hal ini juga membuktikan bahwa kita tidak bisa menyebut bahwa homoseksualitas itu bermoral ataupun tidak bermoral, tidak keduanya, homoseksualitas juga tidak memiliki hubungan apapun dengan benar atau salah, homoseksualitas hanyalah sebuah orientasi seksual dimana seseorang tidak dapat memutuskan untuk menjadi homoseksual, tapi dari pembahasan diatas kita bisa membuktikan bahwa homoseksualitas masuk kedalam lingkup bukan moral (Amoral Sphere).
Suatu saat ketika kawan sedang berada dalam forum diskusi dan disuguhkan pendapat bahwa homoseksualitas merupakan tindakan tidak bermoral dalam lingkup moralitas, tugas kawan-kawan adalah membenarkan jalan berpikir mereka sehingga diskusi tersebut dapat berjalan sebagaimana mestinya, atau mungkin kawan-kawan bisa merekomendasikan blog ini kepada mereka. Hehehe...😏😏😏
Regards NonBeliever


Komentar
Posting Komentar