Pertanyaan "mematikan" dari Theis untuk Atheis
🚨🚨 Buat yang ingin membaca artikel ini disiapkan otak dan tenaganya karena memang artikel ini tergolong cukup panjang. 😅🚨🚨
Sebelum masuk kedalam pembahasan, saya merasa bahwa saya harus menyampaikan-kepada kawan kawan yang sebelumnya belum mengetahui-dan mengingatkan kembali-kepada kawan kawan yang sebelumnya telah mengetahui-beberapa Kesalahan Logika (Logical Fallacy) mengapa saya merasa harus melakukan hal ini ? Karena pertanyaan-pertanyaan dibawah sarat akan Kesalahan Logika (Logical Fallacy) berikut :
- Argument from Ignorance Fallacy : Pernyataan/asumsi dimana sebuah argumen dinyatakan benar karena belum terbukti salah. Contoh : Kita tidak mengetahui bagaimana piramid dibangun oleh karena itu, alien-lah yang membangunnya.
- Black and White Fallacy : Ketika seseorang hanya memberikan dua kemungkinan pada suatu masalah seakan-akan hanya ada dua kemungkinan tersebut, padahal sebenarnya ada banyak kemungkinan lain terhadap masalah tersebut.
- Personal Incredulity Fallacy : Pernyataan/asumsi dimana seseorang merasa tidak memahami suatu hal, dan menganggap hal tersebut salah. Contoh : Saya tidak dapat memahami dan menemukan bukti ilmiah mengenai Hukum Relativitas oleh karena itu, bukti ilmiah mengenai Hukum Relativitas tidak mungkin ada.
- Non-Sequitur Fallacy : Ketika hasil akhir/ konklusi dari sebuah argumen tidak sejalan secara logis terhadap premis-premis yang mendukungnya. Contoh : Jauh sebelum ditemukan bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, manusia sudah mati karena kanker oleh karena itu, merokok tidak menyebabkan kanker.
Dari tiga butir kesalahan logika (Logical Fallacy) yang telah saya sebutkan diatas, mari kita memasuki topik pembahasan. Berikut adalah 7 pertanyaan "mematikan" serta pembahasannya yang acap kali dilontarkan oleh Theis kepada Atheis :
- Bagaimana kehidupan bisa muncul tanpa adanya ruang dan waktu ? Bagaimana bisa seorang atheis berasumsi bahwa atheisme itu valid ketika dimulainya kehidupan serta kemampuannya untuk menciptakan kehidupan merupakan bukti nyata adanya pencipta ?
Ada beberapa Logical Fallacy didalam pertanyaan ini pertama, Argument from Ignorance, kedua, Black and White Fallacy, dan Non-Sequitur Fallacy. Mudahnya seperti ini, "Kita tidak tahu bagaimana permulaan alam semesta, oleh karena itu Tuhan-lah yang memulainya." (Argument from Ignorance) atau dengan kata lain dapat dikatakan sebagai berikut, "Karena Atheis tidak tahu bagaimana permulaan alam semesta, maka satu-satunya alternatif lain adalah adanya Tuhan." (Black and White Fallacy) Permasalahannya adalah meskipun seorang atheis tidak mengetahui bagaimana permulaan alam semesta, maka hal itu sama sekali tidak dapat membuktikan keberadaan Tuhan. - Bagaimana mungkin dari yang tidak hidup berubah menjadi hidup ? Bagaimana mungkin benda mati berubah menjadi sebuah sel yang hidup ?
Pertanyaan ini memiliki garis besar yang sama dengan pertanyaan sebelumnya, dan ia juga memiliki Kesalahan Logika yang sama dengan pertanyaan sebelumnya yaitu Argument from Ignorance, Black and White Fallacy, dan Non-Sequitur Fallacy. "Kita tidak tahu bagaimana kehidupan muncul, maka dari itu Tuhan-lah yang memunculkan kehidupan." (Argument from Ignorance) Selain itu, dikalangan saintis telah sepakat bahwa sains telah mengetahui bagaimana asal dari kehidupan, yaitu asam amino, dimana kita telah berulang kali menciptakannya. - Atheisme berasumsi bahwa manusia hanyalah hewan yang muncul akibat adanya proses evolusi dari hewan sederhana menjadi hewan yang lebih kompleks yang terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama, lalu bagaimana ketika ada hewan yang lebih kompleks dan tingkatnya lebih tinggi dari kita, apakah mereka berhak memasukkan kita kedalam pagar besi dan memperlakukan kita sebagai tikus percobaan ? Lalu apa yang membuat kita memiliki alasan untuk melindungi hak-hak manusia ketika kita menjadi atheis ? Disini, atheisme tidak dapat menjelaskan realitas seorang manusia.
Ada dua hal yang harus direspon mengenai pertanyaan ini, pertama, atheisme tidak berasumsi bahwa manusia adalah hewan, atheisme hanyalah pandangan filsafat terkait ketidakberadaan tuhan, jadi tidak ada hubungnnya dengan pertanyaan diatas. Tapi, saya tidak menyangkal bahwa kebanyakan dari kami-atheis-setuju bahwa kita adalah mamalia, karena memang bukti ilmiah telah mengamini hal tersebut. Untuk pertanyaan mengenai "Apa yang membuat kita memiliki alasan untuk melindungi hak-hak manusia ketika kita menjadi atheis ?" Tentu ada, karena hal tersebut berkaitan erat dengan moralitas, seperti pada artikel saya sebelumnya yang membahas mengenai homoseksualitas dan moralitas, untuk memahami lebih lanjut terkait pemahaman saya mengenai moralitas anda dapat membacanya disini. Yang terakhir, perlu saya tekankan disini agar kawan-kawan mengetahui bahwa tidak ada yang namanya "hewan yang lebih tinggi" dalam evolusi, semua spesies sama dan spesies tersebut hanyalah cabang-cabang yang berbeda dari proses evolusi. Memang benar bahwa sebagaian spesies berperan sebagai predator dan memang nampak lebih tinggi dalam rantai makanan, namun hal tersebut hanya berlaku pada rantai makanan dan hal tersebut tidak dapat membuktikan bahwa mereka lebih tinggi secara evolusi. - Saat kita melihat melalui ilmu Astro-Fisika kita melihat bahwa dunia yang kita tinggali sangatlah presisi dan pas untuk kita, bukankah hal tersebut merupakan bukti nyata tentang adanya Tuhan ? yang mana Tuhan memang menciptakan dunia ini untuk kita.Memang benar adanya, dunia ini terlihat sangat presisi dan pas, seakan-akan dunia ini memang diciptakan untuk ummat manusia namun, alasan tersebut tidak dapat membuktikan bahwa dunia ini memang diciptakan untuk kita dan untuk menjawab pertanyaan ini marilah kita melihat video dari Douglas Adam, disini Douglas Adam membuat sebuah analogi yang cukup menarik dan cukup terkenal bernama "The Sentient Puddle"
Buat kawan-kawan yang tidak bisa Bahasa Inggris dan yang lagi ngirit kuota jangan khawatir hehe, saya akan menyampaikan garis besarnya,
"Ini seperti sebuah genangan air yang muncul setelah hujan reda, kemudian genangan tersebut hidup dan terbangun di pagi hari, kemudian ia berpikir dan mendapati bahwa dunia ini indah lantas ia berpikir 'Ini dunia yang menarik, saya berada disini dan saya rasa dunia ini sangat cocok dan pas untuk saya, atau bahkan, bukankah dunia ini benar benar presisi dan pas untuk saya ?' dan kemudian ia berkata 'Dunia ini pasti dibuat untukku !' Hari-hari terus berlanjut, dan si Genangan Air terus berpikir seperti itu, hingga akhirnya genangan tersebut terus menyusut dan akhirnya benar-benar menghilang karena menguap, dan ia terus terperangkap dalam pikirannya bahwa dunia ini dibuat untuknya, bahkan hingga saat ia telah lenyap dari dunia ini."
Bagaimana kawan ? Bukankah itu hal menyedihkan ? Sangat naif dan bodoh ketika kita berpikir bahwa dunia ini dibuat untuk kita hanya karena dunia ini terasa presisi, pas, dan cocok. Seperti itulah kebanyakan kitab suci dari berbagai agama memandang dunia ini. Selain itu, jika kita terus menjadi si Genangan Air, terus memandang bahwa dunia ini diciptakan untuk kita, maka akan timbul sifat destruktif dalam diri kita, sebagaimana saat ini kita terus-terusan bersikap semena-mena dalam mengeksploitasi SDA dilingkungan kita. - Bagaimana bisa genom dapat mempengaruhi makhluk hidup ? Kita kitahui bersama bahwa Genom merupakan sebuah kumpulan kode informasi, dan layaknya komputer sebuah coding membutuhkan programmer untuk membuatnya, bukankah hal ini sudah menjadi bukti nyata bahwa memang ada Tuhan di balik itu semua ?
Sebenarnya analogi ini mirip seperti analogi The Watchmaker Analogy milik William Paley dari bukunya yang berjudul Natural Theology. Untuk lebih lebih memahami dan mengetahui lebih lengkap kesalahan-kesalahan didalam analogi seperti ini kawan-kawan dapat membacanya disini. Balik lagi ke pembahasan, pada pertanyaan diatas terdapat berbagai Kesalahan Logika (Logical Fallacy) diantaranya adalah Argument from Ignorance, Personal Incredulity Fallacy, dan Black and White Fallacy. "Karena kita tidak tahu bagaimana genom dapat mempengaruhi makhluk hidup maka dari itu, Tuhan lah yang mendesainnya." (Argument from Ignorance) Selain itu kita selalu menganggap bahwa genom merupakan bahasa, namun sebenarnya ia bukan benar-benar berdiri sebagai bahasa, ia hanya berbagi kemiripan. Dan dalam sains, kita telah mengetahui bahwa genom-atau yang kebanyakan orang menyebutnya sebagai bahasa dan atau coding-"ditulis" oleh seleksi alam sebagai akibat dari evolusi, bukan Tuhan. - Lalu darimanakah datangnya moralitas ? Bukankah hal tersebut berasal dari Tuhan ?
Ada perbedaan pendapat dikalangan Atheis sendiri, ada yang menganggap bahwa moralitas datangnya dari kelompok religius non-theist, ada yang berpendapat bahwa kita memang terlahir dengan kapasitas untuk merasakan sakit dan hasrat untuk menghindarinya, dan ada juga yang berpendapat bahwa moralitas merupakan konstruksi kebudayaan. Dan dari perspektif saya pribadi saya lebih condong kepada moralitas merupakan konstruksi kebudayaan, dan semua itu erat hubungannya dengan proses evolusi dan leluhur kita dahulu, karena menurut teori evolusi dan bukti-bukti ilmiah yang ada kita masih memiliki sifat bawaan dari tahapan proses evolusi sebelumnya. - Ketika ada cahaya, maka pasti ada sumber cahaya. Ketika ada bayangan, maka pasti ada tubuh yang menyebabkan adanya bayangan tersebut. Kita melihat bahwa apa-apa yang ada di dunia ini rumit, maka dari kerumitan tersebut haruslah ada sang pencipta.Memang benar ketika ada cahaya maka harus ada sumbernya, dan itu masuk akal. Tapi itu mulai tidak masuk akal ketika Theis berusaha meloncat dari sesuatu (sumber cahaya) menjadi seseorang (badan) tanpa adanya alasan yang rasional dan cukup untuk melakukan hal tersebut. Jangan kaget, pertanyaan dan analogi seperti ini-The Watchmaker Analogy-seringkali dipakai oleh Theis guna mendukung argumennya, dan seperti yang saya telah jelaskan diatas, saya telah membahas mengenai hal ini, kalian bisa membacanya disini.
Baik, itulah ketujuh pertanyaan "mematikan" yang sering dilontarkan oleh Theis kepada Atheis, dan kita bisa menjawabnya satu persatu xixi. Sebenarnya masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang Theis anggap sebagai pertanyaan "mematikan" yang tidak saya ikut sertakan dalam artikel ini, selain karena memang akan membuat artikel saya sepanjang Sungai Bengawan Solo 😂 pertanyaan mereka selalu mbulet disitu-situ saja, bagi kawan-kawan yang mempunyai pertanyaan bisa ditulis dikolom komentar dibwah, dengan senang hati saya akan menjawabnya, dan akan mengangkatnya menjadi artikel kalau saya rasa memang menarik untuk di bahas hehehe.
Regards NonBeliever
Komentar
Posting Komentar