Tidak ada Agama (ide) yang Suci
Balik lagi dengan saya disini 😀 bagaimana kabar kawan-kawan sekalian ? Saya harap selalu sehat dan tetap bersemangat. Artikel kali ini tidak akan terlalu panjang karena banyak tugas kuliah yang menumpuk, selain itu pada artikel kali ini saya hanya akan berbagi opini mengenai Agama yang berperan sebagai ide. Artikel ini sendiri adalah bentuk keprihatinan saya terhadap individu-individu yang berpendapat bahwa agamanya merupakan agama yang suci, yang tidak tersentuh, dan menolak untuk dikritisi. Baiklah tidak perlu belama-lama lagi mari
kita bahas, selamat membaca.
Manusia memiliki kecenderungan untuk menjalani kehidupan mereka sesuai, sejalan, dan searah dengan berbagai macam prinsip yang mereka percayai. Prinsip-prinsip yang mana mempengaruhi moralitas dan kecenderungan politiknya, prinsip-prinsip yang mana membentuk cara kita berinteraksi dengan orang lain, dan prinsip-prinsip yang mana mempengaruhi pola pikir dan sudut pandang kita terhadap dunia. Dari sekian banyak prinsip-prinsip di dunia ini ada satu prinsip dimana saya secara pribadi memandangnya sebagai sebuah prinsip yang sangat penting nilainya bagi kemajuan masyarakat dalam berpikir yaitu, sebuah prinsip yang menyatakan bahwa setiap ide, setiap keyakinan, dan setiap sistem kepercayaan dapat dan harus terbuka terhadap kritikan dan analisis yang bersifat skeptis.
Ada sebagian orang yang mempercayai dan mengikuti prinsip tersebut sebagai landasan berpikir mereka, sehingga mereka cenderung tidak akan tersinggung dan bahkan mereka cenderung terbuka terhadap diskusi-diskusi yang penuh dengan kritikan-kritikan yang bersifat menyerang ideologi dan kepercayaan mereka. Karena sejatinya memang seperti itulah cara sebuah diskusi berjalan, begitulah cara masyarakat untuk terus hidup, dengan adu argumen, adu opini dan saling bertukar pikiran. Sekarang coba bayangkan ketika anda berdialog mengenai filsafat ketuhanan dimana lawan bicara anda dengan mudahnya menyetujui dan mengiyakan apa yang anda sampaikan, tak saling serang argumen, dan semua hanya berjalan apa adanya seperti yang kawan-kawan sampaikan, benar-benar dialog yang membosankan bukan ?
Kritikan, dan hinaan adalah elemen dan mekanisme yang paling penting guna menggapai kemajuan dalam sebuah pencapaian. Beberapa orang berpendapat bahwa ada sebuah ide dimana ide tersebut begitu sempurna dan erat hubungannya dengan masyarakat, budaya, dan adat lokal sehingga ide tersebut tak seharusnya dipertanyakan, dikritik, dan dicemooh. Sekarang saya ingin bertanya kepada anda sekalian, bagaimana jika dulu Teori Gravitasi dari Isaac Newton dianggap telah sempurna dan tidak dapat diganggu gugat ? Mungkin Albert Einstein tidak akan pernah menggagas Teori Relativitas miliknya, inilah yang namanya kemajuan, dan begitulah cara Sains bekerja, Sains akan terus tumbuh dengan diiringi oleh kritikan dan hinaan.
Mari kita mengulik sains lebih dalam, kenapa sains begitu cepat berkembang sedangkan tidak dengan agama. Cobalah kawan-kawan sekalian bertanya kepada seorang ahli dalam bidang Biologi Evolusi, bagaimana tanggapannya jika keyakinannya saat ini, mengenai Evolusi, anda nyatakan salah dan anda bisa membuktikan kepada ahli Biologi Evolusi tersebut bahwa Evolusi itu salah, anda mungkin berpikir bahwa ahli Biologi Evolusi tersebut akan marah kepada anda jika keyakinannya saat ini, mengenai Evolusi, terbukti salah. Tapi kenyataannya tidak akan seperti itu, jika kawan-kawan bisa membuktikan bahwa Evolusi itu salah, Gravitasi itu tidak ada, atau membuktikan teori apapun yang diyakini oleh Sains, saat ini, bahwa teori-teori tersebut salah, maka kawan-kawan akan dipuja, disegani oleh komunitas Sains dan di anggap sebagai pahlawan, bahkan mendapatkan hadiah Nobel. Karena memang itulah Sains. Ketika anda sekalian dapat membuktikan bahwa sebuah teori dalam Sains itu salah, kawan-kawan tidak akan dirajam, digantung, dan dieksekusi oleh karenanya, bahkan sebaliknya, kawan kawan akan dipuja sebagai pahlawan, hal ini berkebalikan akan terjadi ketika kawan sekalian membuktikan bahwa sebuah doktrin agama itu salah.
Mari kita buat perbandingan sederhana, lihatlah Sains 1000 tahun yang lalu, sekarang lihatlah Sains saat ini, lihatlah kemajuannya, lihatlah evolusinya, bukankah benar benar terasa bedanya ? Sekarang mari kita lihat Agama dan melakukan perbandingan yang sama terhadapnya, lihatlah Agama 1000 tahun yang lalu, dan lihatlah Agama saat ini, apakah ada kemajuan dalam agama ? dari perbandingan diatas kita dapat melihat perbedaan dari keduanya, perbedaan yang sangat terasa terjadi antara 2 sudut pandang, yang satu melalui Kacamata Sains (Science) dan yang satunya melalui Kacamata Kepercayaan (belief), sudut pandang melalui Kacamata Sains (Science) memungkinkan manusia untuk selalu berkembang dan berevolusi dalam pemkiran, dan hal sebaliknya terjadi pada sudut pandang melalui Kacamata Kepercayaan (belief), manusia akan dipaksa untuk membatasi pemikirannya dan menghambatnya untuk maju.
Sebagai penutup saya hanya ingin beropini, bahwa begitulah agama seharusnya, ia hanyalah ide dan gagasan, dan sebagai ide, ia seharusnya menerima dan mengakui ketika suatu doktrin di dalamnya dikritisi, dicemooh, dan dinyatakan salah melalui bukti-bukti yang kuat, dan tidak terbantahkan. Karena kritik dan cemoohan itulah agama dan penganutnya diharapkan dapat mengalami kemajuan. Ketika agama (ide) tersebut menolak untuk dikritisi, dan dicemooh maka ada yang salah dengan agama itu. Maka, tinggalkan agama (ide) tersebut sehingga terbebaslah kawan-kawan dari doktrin agama yang primitif, mengekang, dan menolak untuk berkembang.
Manusia memiliki kecenderungan untuk menjalani kehidupan mereka sesuai, sejalan, dan searah dengan berbagai macam prinsip yang mereka percayai. Prinsip-prinsip yang mana mempengaruhi moralitas dan kecenderungan politiknya, prinsip-prinsip yang mana membentuk cara kita berinteraksi dengan orang lain, dan prinsip-prinsip yang mana mempengaruhi pola pikir dan sudut pandang kita terhadap dunia. Dari sekian banyak prinsip-prinsip di dunia ini ada satu prinsip dimana saya secara pribadi memandangnya sebagai sebuah prinsip yang sangat penting nilainya bagi kemajuan masyarakat dalam berpikir yaitu, sebuah prinsip yang menyatakan bahwa setiap ide, setiap keyakinan, dan setiap sistem kepercayaan dapat dan harus terbuka terhadap kritikan dan analisis yang bersifat skeptis.
Ada sebagian orang yang mempercayai dan mengikuti prinsip tersebut sebagai landasan berpikir mereka, sehingga mereka cenderung tidak akan tersinggung dan bahkan mereka cenderung terbuka terhadap diskusi-diskusi yang penuh dengan kritikan-kritikan yang bersifat menyerang ideologi dan kepercayaan mereka. Karena sejatinya memang seperti itulah cara sebuah diskusi berjalan, begitulah cara masyarakat untuk terus hidup, dengan adu argumen, adu opini dan saling bertukar pikiran. Sekarang coba bayangkan ketika anda berdialog mengenai filsafat ketuhanan dimana lawan bicara anda dengan mudahnya menyetujui dan mengiyakan apa yang anda sampaikan, tak saling serang argumen, dan semua hanya berjalan apa adanya seperti yang kawan-kawan sampaikan, benar-benar dialog yang membosankan bukan ?
Kritikan, dan hinaan adalah elemen dan mekanisme yang paling penting guna menggapai kemajuan dalam sebuah pencapaian. Beberapa orang berpendapat bahwa ada sebuah ide dimana ide tersebut begitu sempurna dan erat hubungannya dengan masyarakat, budaya, dan adat lokal sehingga ide tersebut tak seharusnya dipertanyakan, dikritik, dan dicemooh. Sekarang saya ingin bertanya kepada anda sekalian, bagaimana jika dulu Teori Gravitasi dari Isaac Newton dianggap telah sempurna dan tidak dapat diganggu gugat ? Mungkin Albert Einstein tidak akan pernah menggagas Teori Relativitas miliknya, inilah yang namanya kemajuan, dan begitulah cara Sains bekerja, Sains akan terus tumbuh dengan diiringi oleh kritikan dan hinaan.
Mari kita mengulik sains lebih dalam, kenapa sains begitu cepat berkembang sedangkan tidak dengan agama. Cobalah kawan-kawan sekalian bertanya kepada seorang ahli dalam bidang Biologi Evolusi, bagaimana tanggapannya jika keyakinannya saat ini, mengenai Evolusi, anda nyatakan salah dan anda bisa membuktikan kepada ahli Biologi Evolusi tersebut bahwa Evolusi itu salah, anda mungkin berpikir bahwa ahli Biologi Evolusi tersebut akan marah kepada anda jika keyakinannya saat ini, mengenai Evolusi, terbukti salah. Tapi kenyataannya tidak akan seperti itu, jika kawan-kawan bisa membuktikan bahwa Evolusi itu salah, Gravitasi itu tidak ada, atau membuktikan teori apapun yang diyakini oleh Sains, saat ini, bahwa teori-teori tersebut salah, maka kawan-kawan akan dipuja, disegani oleh komunitas Sains dan di anggap sebagai pahlawan, bahkan mendapatkan hadiah Nobel. Karena memang itulah Sains. Ketika anda sekalian dapat membuktikan bahwa sebuah teori dalam Sains itu salah, kawan-kawan tidak akan dirajam, digantung, dan dieksekusi oleh karenanya, bahkan sebaliknya, kawan kawan akan dipuja sebagai pahlawan, hal ini berkebalikan akan terjadi ketika kawan sekalian membuktikan bahwa sebuah doktrin agama itu salah.
Mari kita buat perbandingan sederhana, lihatlah Sains 1000 tahun yang lalu, sekarang lihatlah Sains saat ini, lihatlah kemajuannya, lihatlah evolusinya, bukankah benar benar terasa bedanya ? Sekarang mari kita lihat Agama dan melakukan perbandingan yang sama terhadapnya, lihatlah Agama 1000 tahun yang lalu, dan lihatlah Agama saat ini, apakah ada kemajuan dalam agama ? dari perbandingan diatas kita dapat melihat perbedaan dari keduanya, perbedaan yang sangat terasa terjadi antara 2 sudut pandang, yang satu melalui Kacamata Sains (Science) dan yang satunya melalui Kacamata Kepercayaan (belief), sudut pandang melalui Kacamata Sains (Science) memungkinkan manusia untuk selalu berkembang dan berevolusi dalam pemkiran, dan hal sebaliknya terjadi pada sudut pandang melalui Kacamata Kepercayaan (belief), manusia akan dipaksa untuk membatasi pemikirannya dan menghambatnya untuk maju.
Sebagai penutup saya hanya ingin beropini, bahwa begitulah agama seharusnya, ia hanyalah ide dan gagasan, dan sebagai ide, ia seharusnya menerima dan mengakui ketika suatu doktrin di dalamnya dikritisi, dicemooh, dan dinyatakan salah melalui bukti-bukti yang kuat, dan tidak terbantahkan. Karena kritik dan cemoohan itulah agama dan penganutnya diharapkan dapat mengalami kemajuan. Ketika agama (ide) tersebut menolak untuk dikritisi, dan dicemooh maka ada yang salah dengan agama itu. Maka, tinggalkan agama (ide) tersebut sehingga terbebaslah kawan-kawan dari doktrin agama yang primitif, mengekang, dan menolak untuk berkembang.
Regards NonBeliever
Bagian agama mana yang hendak anda kritisi?
BalasHapusBagian dimana suatu agama dianggap suci, tidak boleh dihina, tidak mungkin salah, dan sempurna.
HapusTapi kembali lagi ke awal, apakah anda juga menganggap agama hanyalah sebuah ide (hasil pemikiran manusia) layaknya saya menganggap agama, atau anda menganggap bahwa agama datang dari Tuhan ?
Jawaban anda akan menentukan hasil akhirnya, ketika anda mempercayai bahwa agama hanyalah sebuah ide (hasil pemikiran manusia), maka seharusnya anda setuju jika agama tidak sempurna, perlu revisi, pengembangan, dsb. Namun ketika anda mempercayai bahwa agama datang dari Tuhan yang menurut anda maha sempurna, maka menurut saya diskusi tidak perlu berlanjut, selain karena akan menyia-nyiakan waktu, landasan berpikir kita tidak sejalan dalam hal ini.
Regards NonBeliever.
Saya percaya bahwa Islam adalah agama dari Tuhan.
HapusJika anda berpendapat bahwa agama hanya ide yang diciptakan, maka siapa orang yang menciptakan Islam? Dan bagaimana proses nya?
Perbanyak baca sejarah sekuler, jangan hanya melihat dari satu sisi.
HapusDidalam sejarah sekuler selalu disebutkan bahwa pencipta agama adalah pencetus agama itu sendiri, kita ambil contoh Agama Yahudi diciptakan oleh Musa, Agama Kristen diciptakan oleh Yesus, begitu pula agama-agama lain di dunia ini.
Untuk pertanyaan selanjutnya saya harap memiliki hubungan erat dengan tulisan saya diatas.
Regards NonBeliever.
Bukankah anda telah membaca banyak buku2 sejarah sekuler tersebut, mengapa tidak anda ungkapkan langsung kepada saya? Tadi anda sudah menjawab sekilas siapa pencetus agama yahudi dan kristen, maka siapa yg mencetuskan agama Islam?
HapusSaya yakin anda dapat menarik kesimpulan sendiri.
HapusSekali lagi, saya mohon untuk pertanyaan/komentar selanjutnya memiliki hubungan yang erat dengan tulisan saya diatas.
Regards NonBeliever.
Di bagian pertanyaan mana yang tidak relevan dengan tuliaan anda?
HapusSaya tidak pernah mengatakan tidak relevan, saya hanya mengatakan kurang relevan sekali lagi, kurang relevan. Didalam tulisan saya, saya membahas dan mengkritik mengenai konsep agama sebagai ide yang sempurna dan tidak bisa diganggu gugat, sedangkan pertanyaan anda selalu mengarah kepada sejarah sekuler yang ditujukan untuk menjatuhkan saya, bukan untuk mengkritik tulisan saya.
HapusAnda mengajukan pertanyaan-pertanyaan kurang penting padahal anda sudah tau jawabannya. Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang intelek dan bertujuan untuk mengkritik tulisan saya.
Kembali lagi ke awal, saya rasa lebih baik diskusi ini dihentikan karena akan menyia-nyiakan waktu selain itu kita memiliki landasan dan konsep dasar yang berbeda dalam memandang agama, sehingga yang terjadi hanyalah debat kusir yang tidak berujung. Untuk pertanyaan selanjutnya dari anda, tidak akan saya tanggapi kecuali hanya bertujuan untuk mengkritisi tulisan saya. Terimakasih.
Regards NonBeliever.
Mohon maaf sekali lagi. Pada tulisan tersebut anda mengatakan bahwa agama adalah layaknya sebuah ide atau gagasan ciptaan. Maka wajar jika orang awam seperti saya mempertanyakan bukti yang mendasari pendapat anda. Karena pendapat tentu memiliki latar belakang dan bukti.
HapusBerdasar tulisan anda, yang saya tangkap adalah premis ketika agama sebagai ide tidak menerima masukan dan kritikan, maka tinggalkan.
Lalu anda menjawab kritikan yang anda maksud ada pada bagian sempurna dan tidak boleh dihina.
Pertanyaannya, bukankah dalam agama ada ranah yang memang ada untuk diperdebatkan, diberi masukan untuk relevansi zaman, lalu ranah mana yg anda maksud terlalu sempurna dan tidak mau dikritik? Mohon diberi penjelasan lebih dalam
Saya tidak menolak bahwa ada sebagian konsep dalam agama yang dapat dikritik guna relevansi dengan zaman, namun kita juga harus mengakui kalau agama juga memiliki beberapa konsep dasar yang tidak boleh diganggu gugat dengan pemahaman jika kita mengkritik hal tersebut maka akan masuk neraka, wajib dihukum, dan bahkan dieksekusi.
HapusJika kita memandang agama sebagai sebuah ide, layaknya saya memandang agama, maka pemahaman seperti inilah yang menurut saya salah. Karena sebuah ide berhak untuk dikritisi dan disalahkan secara menyeluruh, meskipun yang dikritisi adalah konsep dasar dari ide tersebut. Kita ambil contoh pemahaman Humanis, Sosialis, Komunis, Liberalis, Kapitalis, serta berbagai pemahaman didunia ini, pemahaman-pemahaman tersebut secara terbuka menerima segala kritikan bahkan ketika kritikan tersebut ditujukan pada konsep-konsep dasar dari pemahaman tersebut.
Saya kira saya tidak perlu menyebutkan satu-persatu konsep-konsep manakah dalam agama yang dinilai tidak boleh dikritik dan dinyatakan salah, karena saya yakin anda sendiri sudah mengetahui apa saja konsep-konsep tersebut. Selain itu, ketika saya dengan jelas menyebutkan konsep-konsep tersebut maka saya yakin diskusi akan melenceng jauh dari inti pembahasan, seperti yang anda harapkan, dan akan menyia-nyiakan waktu, saya yakin anda punya kepentingan dan pekerjaan lain yang harus dilakukan, begitu pula saya.
Lebih baik kita sudahi saja diskusi ini, karena saya nilai penjelasan dari saya sudah cukup jelas, dan saya yakin anda dapat memahaminya.
Ingat, dalam sebuah diskusi, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, senang berdiskusi dengan anda, sampai jumpa, dan terimakasih.
Regards NonBeliever.
Menarik sekali tulisan anda, akan saya coba buat replynya..
BalasHapusBahkan ke-sok-tahuan Anda mengenai agama pun masih kurang, lalu bagaimana anda bisa mengkritisi agama? Kristen bukan diciptakan oleh Yesus, telah disebutkan di
BalasHapusNew International Version Bible, Gospel of John 14:6 Jesus answered, “I am the way and the truth and the life. No one comes to the Father except through me." Dalam arti lain bahwa Dia adalah seorang utusan.
Saya minta Anda cari di ayat mana, di bagian mana dalam Bibel yang menyebutkan bahwa diriNya yang menciptakan Kristen.
Kendati Anda sebagai ex-Muslim yang sebagaimana Anda katakan di artikel sebelumnya, Anda sendiri tidak paham apa yang terkandung dalam kitab Anda sebelumnya sebagai seorang Muslim. Lalu Anda mengatakan di artikel sebelumnya "karena Quran sendiri dengam sombong dan piciknya menyatakan bahwa ayat-ayat dan perintah yang terkandung didalamnya berlaku sampai selama-lamanya."
Bagaimana bisa Anda mengkritisi "Agama" dimana Anda sendiri tidak mengetahui tentang "Agama"? Boleh saya katakan bahwa statement Anda adalah statement terbodoh yang pernah saya dengar.
Sebelum anda meminta saya untuk membuktikan Yesus adalah pencipta agama kristen, buktikan terlebih dulu bahwasanya ada entitas yang mengutus Yesus ke dunia, buktikan secara SAINTIFIK, bukti dari ayat Alkitab anda yang bersifat doktrinal tidak akan cukup untuk membuat Yesus layak disebut sebagai utusan. Jika anda tidak bisa menemukan buktinya, maka argumen anda akan gugur dengan sendirinya, dan saya ridak perlu repot-repot mencari bukti bahwa Yesus adalah pencipta agama Kristen. Itu alur logikanya dibenarkan terlebih dahulu.
HapusDan tolong diingat bahwasanya saya menggunakan definisi untuk pencipta agama adalah orang yang pertamakali menyebarkan dan mempromosikan agama tersebut. Kalau kita berbicara kekristenan tentu saja Yesus lah yang telah menciptakan agama kristen.
Tolong buktikan di artikel mana saya menyebutkan bahwasanya diri saya tidak paham dengan AlQuran ? Tolong jangan bawa argumen bodong tanpa bukti. Terimakasih.
Regards NonBeliever.