Islam is A Religion of Peace (?)

Selamat siang kawan-kawan, sudah lama saya tidak menulis artikel dikarenakan kesibukan dan tugas-tugas kuliah yang semakin menumpuk sehingga menyita waktu luang saya. FYI, saya adalah seorang ex-muslim (mantan muslim), dalam perjalanan saya  meninggalkan Islam dan memutuskan untuk menjadi seorang ateis saya dihadapkan dengan berbagai macam masalah, dan sebagian besar dari masalah-masalah tersebut menjadi faktor penyebab saya meninggalkan Islam.

Dan salah satu permasalahan yang cukup menarik di mata saya kala itu adalah statement yang kerap di keluarkan oleh sebagian besar umat Islam yaitu, „Islam is a religion of peace“. Disini saya akan mengungkapkan dan menjabarkan statement diatas sehingga pada akhir artikel kita dapat membuat konklusi darinya, apakah statement tersebut bernilai benar atau salah. Agar tidak panjang lebar, mari kita mulai, selamat membaca. 😄

Agar lebih jelas saya akan memaparkan sebuah silogisme sederhana yang kerap dijadikan sebagai dasar dari statement atau argumen yang menyatakan bahwa Islam adalah agama kedamaian.

  • Peace (kedamaian/damai) diartikan sebagai ketiadaan/kurangnya konflik/perseteruan dan perasaan bebas dari rasa takut yang timbul akibat dari kekerasan. (Premis 1)
  • Islam selalu menjunjung tinggi dan bertindak sesuai dengan asas-asas perdamaian (peace). (Premis 2)
  • Maka dari itu, Islam adalah agama kedamaian (Islam is a religion of peace). (Konklusi)

Ketika seseorang melontarkan sebuah argumen „Islam is religion of peace“, maka langkah paling penting yang harus kita lakukan adalah menanyakan kepadanya bagaimana ia menginterpretasikan makna dari kata Peace itu sendiri karena dalam kasus ini, kita memiliki dua makna/arti dari Peace, yaitu :

  1. Colloquial Peace“ : Ketiadaan/kurangnya konflik/perseteruan dan perasaan bebas dari rasa takut yang timbul akibat dari kekerasan.
  2. Islamic Peace“ : Tunduk kepada ketentuan Allah untuk mencari ridho dan ketenangan abadi.

Sebelum kita melanjutkannya, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu bagaimana dunia Islam mendefinisikan kata „Islam“ itu sendiri. Akar kata Islam berasal dari Bahasa Arab "سلام" (salaam) yang dapat diartikan sebagai „Peace“/damai, dan kata „Islam“ sendiri dapat diartikan sebagai bentuk penyerahan diri kepada ketentuan Allah untuk mencari ridho dan ketenangan abadi. Atau lebih jelasnya adalah, dalam dunia Islam–dari akar katanya–Islam diartikan sebagai „Peace“.

Oleh karena itu, banyak orang mengatakan dan mengeluarkan statement bahwa „Islam is religion of piece“ hanya karena arti dari Islam itu sendiri adalah „Peace“. Dari sini kita bisa menemukan kesalahan logika (Logical Fallacy) didalamnya yaitu berupa „Circular Reasoning Fallacy“ (Argumen yang berputar-putar, ketika sebuah konklusi digunakan untuk mendukung premisnya dan kemudian digunakan ulang untuk menghasilkan konkusi yang sama dengan sebelumnya). Mendefinisikan islam sebagai damai/kedamaian dan kemudian menyatakan bahwa Islam adalah agama yang damai hanya karena definisi tersebut, maka sama saja menyatakan bahwa nazisme adalah ideologi yang penuh kasih dan cinta hanya karena Nazi secara harfiah berarti cinta (Islam=damai, Islam=>The Religion of Peace<=>Nazi=cinta, Nazisme=>The Ideology of Loving). Sungguh hal yang bodoh bukan ?

Ketika seorang muslim menyatakan bahwa „Islam is a religion of peace“–berdasarkan silogisme diatas–dan mendefinisikan kata Peace yang ada didalam premis pertama dan konklusinya dengan definisi „Colloquial Peace“ dan kemudian ia mendefinisikan kata „Peace“ yang ada didalam premis kedua dengsn derinisi „Islamic Peace“–dan memang seharuanya seorang muslim menggunakan definisi ini untuk mengartikan kata Peace–maka ia telah melakukan kesalahan logika (Logical Fallacy) berupa „Equivocation Fallacy“ (ketika dua kata/istilah yang memiliki 2 arti berbeda digunakan didalam 2 premis yang berbeda pada sebuah argumen).

Tetapi kebanyakan muslim saat ini–ketika mengeluarkan statement Islam is a religion of peace–mereka eggan untuk menggunakan „Islamic peace definition“ ketika mendefinisikan kata Peace, karena telah dipatahkan dan mengandung 2 kesalahan logika didalamnya (Sircular Reasoning & Equivocation) sehingga menyebabkan statement „Islam is a religion of peace“ bernilai tidak valid. Akhirnya kebanyakan dari mereka menggunakan „Colloquial Peace definition“, tapi, nyatanya ajaran Islam sangat bertentangan dengannya. Didalam Quran sendiri ada ratusan ayat yang membicarakan mengenai kekerasan, homofobik, seruan perang terhadap orang kafir, hingga ujaran kebencian. Ayat-ayat tersebut menjadi dasar pemikiran para ekstrimis dan gerakan radikal untuk melaksanakan aksi teror yang sangat bertentangan dengan kata „Peace“ itu sendiri. Hal itu juga didukung oleh data survey berupa polling dari Pew Research Center terhadap 38.000 Muslim di 39 negara berbeda menyatakan bahwa 60% peserta survey percaya bahwa seorang istri harus patuh–segala perintah tanpa terkecuali–terhadap suaminya, 75% peserta survey percaya bahwa untuk menjadi orang yang bermoral kita harus percaya kepada Allah, 40% peserta survey menginginkan hukuman mati terhadap orang-orang yang keluar dari Islam, dan 61% peserta survey para pelaku homoseksual harus dihukum. (Kalian bisa mengecek hasil survey disini).

Seorang filsuf asal Amerika, Sam Harris, menyatakan bahwa masalah yang dihadapi Islam bukanlah para ekstrimis dan kaum radikalis, karena sejatinya para ekstrimis dan kaum radikalis bukanlah jadi masalah ketika kepercayaan dasar (core belief) yang kamu percayai benar-benar mengajarkan kebaikan dan kedamaian, mereka yang disebut sebagai ekstrimis dan radikalis hanya berusaha menerapkan secara gamblang apa yang tertulis didalam Quran. Tapi, kebanyakan muslim akan mengelak dan mengatakan “Ayat-ayat tersebut–yang berhubungan dengan kekerasan–terjadi pada zaman dimana Islam masih dimusuhi dan masih lemah, tapi sekarang sudah tidak relevan lagi dikarenakan Islam sudah kuat, dan perang yang relevan untuk dilakukan pada zaman ini hanyalah perang pemikiran, bukan senjata.“ Boleh saya katakan bahwa statement tersebut adalah statement terbodoh yang pernah saya dengar, karena Quran sendiri dengam sombong dan piciknya menyatakan bahwa ayat-ayat dan perintah yang terkandung didalamnya berlaku sampai selama-lamanya.

Sebelum saya mengakhiri artikel saya pada kali ini, saya hanya ingin menyatakan bahwa setiap agama atau ideologi apapun bisa dipraktekkan atau dijalankan dengan penuh kedamaian dan tanpa konflik, tapi hal tersebut tetap saja tidak dapat membuat suatu agama atau ideologi tersebut dinyatakan sebagai agama/ideologi yg penuh kedamaian, (Islam is religion of peace). Untuk menjadi seorang muslim yang penuh dengan kedamaian, setiap muslim harus menolak dan mengacuhkan sebagian besar ayat dan ajaran didalam Quran, dan hanya mengambil ayat-ayat yang penuh kedamaian dan tanpa konflik.

Setelah kita jabarkan dan telaah statement „Islam is a religion of peace“  kita menemukan bahwasanya statement tersebut memiliki kecacatan logika didalamnya (Sircular Reasoning & Equivocation), banyak muslim mendukung ayat-ayat kekerasan dan penuh konflik, dan banyak ayat didalam Quran–terlepas dari konteksnya–yang menganjurkan dan perintah untuk berbuat kekerasan, konflik, dan ujaran kebencian sehingga mereka yang disebut sebagai ekstrimis dan radikalis berusaha menerapkan secara gamblang apa yang tertulis didalam Quran. Lantas apakah statement „Islam is a religion of peace“ masih bernilai valid setalah kita ketahui bersama bahwa statement tersebut mengandung banyak permasalahan didalamnya ? Saya rasa kalian sudah tahu jawabannya.
The fact is that Islam is many things–but to say it’s a religion of peace is nonsense; it’s to ignore reality; it’s to ignore very difficult, but necessary fact; not paradigms, but facts! To say that Islam is a religion of peace is to say something based entirely on hope; it’s to elevate a hope into truth, and i hope as you all know, history teaches us that's a very bad thing to do.“ (Douglas Murry)


Regards NonBeliever

Komentar

Postingan Populer